Dukun Bayi Itu Bernama Mbok Mijah

dukun-bayiMbok mijah namanya, atau yang lebih dikenal sebagai seorang dukun bayi itu rela berjalan mondar mandir dari desa satu ke desa yang lainnya demi memenuhi panggilan untuk menyembuhkan bayi yang sedang sakit.

Setiap ada bayi yang sakit, mbok Mijah lah orang pertama yang dicari, dan dengan sihir ampuhnya mbok mijah bisa menyembuhkan bayi itu. Entah apa doa-doa yang diucapkan dari mulut seorang nenek tua itu, hanya bisikan-bisikan yang tak begitu jelas, namun bisa menyembuhkan berbagai penyakit.

Dengan bermodalkan “lemah prapatan” dan dedaunan alami dia mengubahnya menjadi obat paling mujarab untuk seorang bayi yang sakit. Terkadang nenek tua itu juga meludahi obat alami sebelum mengoleskan ditubuh bayi yang sedang kesakitan.

Karir mbok mijah sangat cerah, dia menjadi orang yang paling dicari ketika ada bayi yang meringik kesakitan. Masalah honor, mbok Mijah tak pernah memberikan tarif, dia tidak pernah meminta bayaran. Tarifnya ditentukan sendiri oleh orang yang membutuhkannya.

Jasa Mbok Mijah sangat besar sekali bagi orang kampung. Selama Mbok Mijah berkarir belum pernah ada kasus seorang bayi meninggal. Sebuah prestasi yang luar biasa bagi seorang nenek tua.

Kehidupan kampung sangat nyaman, Karir mbok Mijah semakin cemerlang,  sampai suatu ketika datang seorang pria dengan wajah tampan dan berkarisma yang mengaku sebagai seorang pemuka agama, dan memberi ceramah agama untuk tidak lagi mempercayai seorang dukun.

Ceramahnya begitu memukau, “Iman, Tanamkan keimanan dalam hatimu, tuhan akan memberikan kemudahan,” begitulah ceramahnya, tentang keimanan dan ketakwaan pada Tuhan.

Dengan mengatasnamakan tuhan seorang pria itu mengubah pola pikir orang kampung. Mbok Mijah tak lagi dipanggil, tak lagi ada yang mempercayainya. Bahkan tetangganya berniat mengusirnya.

Lemah prapatan dan kerabatnya hanya menjadi kenangan.. tak lagi mujarab, tak lagi ampuh seperti dulu lagi……. Oh mbah mijah riwayatmu kini….

Mbok mijah dengan langkah gontainya menyusuri jalan keluar desa. Keputusan untuk meningglkan desa telah bulat. Kali ini kampungnya tak ramah lagi.

Dengan membawa barang seadanya yang terbungkus dalam balutan selendangnya, ia berjalan dengan tegak. Dia ikhlas meninggalkan desanya, yang dipikirkan hanyalah kebahagiaan penduduk desa.

Jika dengan kepergiannya akan membuat desa merasa aman, maka apapun akan dilakukannya. Mbok Mijah meneteskan air mata didepan perbatasan desa, dia tak kuasa menahan rasa sedih meninggalkan desa yang telah berpuluh-puluh tahun menjadi tempat tinggalnya.

Halaman rumah, kamar tua yang atapnya mulai tak kuat lagi, lolongan anjing di malam hari, dan segelas kopi hitam disenja dibelakang rumahnya akan menjadi sesuatu yang paling dirindukannya.

 

Iklan

Tentang zakariya47

secangkir seduhan teh tanpa gula di pagi hari
Pos ini dipublikasikan di CERPEN dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s